Kamis, 12 April 2012

BAND SKA~Souljahh



Souljah merupakan sebuah band Jamaican Music yang sudah terbentuk dari tahun 1998, ketika sebagian besar personilnya masih kuliah di Universitas Indonesia. Pada tahun 1999 mereka menandatangani kontrak dengan Sony Music Indonesia. Selang beberapa tahun, tepatnya pada tahun 2003 mereka dipercaya untuk ikut album kompilasi “Asian Ska Foundation” yang diproduksi oleh sebuah label Jepang, Authority Records.

Album perdana Souljah - Breaking the Roots rampung pada tahun 2005. Album dengan 12 lagu yang unik dihidangkan ke telinga masyarakat dengan beragam jenis lagu seperti Reggae, Chill out, Traditional ska, Dancehall, Hip Hop, dan lainnya, album Breaking the Roots dapat membuat orang tercengang mendengarnya. Hal ini tidak lain dan tidak bukan karena penggabungan groovy beat Dimas, suara lembut dan powerful dari Danar, Jamaican rap yang melodius dari Said, suara trumpet sexy David, nada lembut dan hangat persembahan Renhat, dan tentunya permainan gitar upstroke dari Bayu, gitaris Souljah yang kini telah hengkang dan digantikan posisinya oleh Gema Maulana.

Empat dari 12 lagu tersebut merupakan karya kolaborasi Souljah dengan artis-artis-artis seperti; Soulid yang muncul dalam ”All I Know,” Bad Mono dalam ”The Day The World Turns Into Grey,” Sundari Soekotjo dalam “Lelaki itu,’” dan Happy Salma dalam “Magenta.” Dengan album BREAKING THE ROOTS, SOULJAH berhasil mendapatkan penghargaan sebagai breakthrough artis oleh Radio Prambors Jakarta.

Album ke2 Souljah dengan judul BERSAMAMU dirilis pada tahun 2007 yang diikut oleh dirilisnya novel dengan judul yang sama oleh Gagas Media. Album ini telah laku ribuan keping yang membuat SOULJAH semakin menapakkan kaki di blantika musik nasional.

Sebagai persembahan single dari album ke3 Souljah yang diberi judul MESTAKUNG, maka Souljah mengumandangkan “Hanya Ingin Pulang”. Sebuah lagu yang diciptakan khusus sebagai theme song mudik. Album MESTAKUNG ini juga akan dirilis pada bulan November 2008.

BAND SKA ~ The Authentics


“Ska sampai mampus!” ucap Dawny Bayu Amianto, vokalis dari band traditional ska The Authentics. Ia mengatakan ini adalah satu kalimat yang mencerminkan sikap band tersebut. Ia bahkan sempat menggunakan kalimat seruan ini menjadi password bagi para guestlistnya di acara Rolling Stone Release Party yang diadakan di Rolling Stone Live Venue hari Jumat, 9 April 2010 kemarin. Band yang beranggotakan pemain bas Marchel Arnold, gitaris Dani, peniup saksofon Zendi, dan pemain keyboard Ceki ini mengguncang panggung Ampera Raya dengan kostum kemeja hitam rapih dan berdasi. Dawny manggung mengenakan jaket Fred Perry putih, serta kaca mata hitam Ray Ban. Ia tahu persis bagaimana berdandan ska/mod/two tone yang baik dan benar.

Bagi yang mengetahui dan mengikuti scene musik khususnya ska, Dawny dan juga Zendi bukanlah anak kemarin sore. Mereka sempat mengecap asam garam dunia musik Indonesia di sebuah band ska-punk bernama Jun Fan Gung Foo, yang terbentuk tahun 1996 dan sempat merilis dua album di bawah label Sony Music Indonesia di awal tahun 2000. Dani sang gitaris juga sempat lalu lalang di berbagai band indie macam Perfect Minors, dan juga Straight Out yang beraliran metalcore. Kemeja motif pantai di Jun Fan Gung Foo ditinggalkan, solo gitar meraung dan headbang a la straightout dilepas. Gantinya adalah attitude penyanyi crooner a la Frank Sinatra, gitar semi hollow bersuara bersih, dan goyangan kaki Elvis Presley yang enerjik.

“Berbicara musik, ska yang kami usung lebih ke akar musik ska. Ska revival. Seperti misalnya The Slackers, Hepcat, The Skatalites, Toots and the Maytals. Musik model seperti itu,” ujar Dani, sang gitaris penggemar blues yang merupakan otak musikal The Authentics. Dawny menambahkan,” Tapi kami menambahkan nuansa musik lain juga supaya lebih enak didengarkan. Ada swing di situ, ada jazz dan tentu juga ada blues ataupun soul.” Banyak sekali campurannya memang, namun penampilan The Authentics tak jauh dari kata menghibur. Semua personel bergerak di atas panggung, komunikasi Dawny terasa natural dan mengalir. Permainan gitar Dani pun total mengusung nyawa blues yang dalam. Perjalanan mereka dalam membentuk The Authentics memang sudah jauh. Dengan album yang siap dirilis dalam waktu dekat, The Authentics siap mengibarkan kembali musik ska berkualitas di Indonesia.

Semenjak band seperti Tipe-X menguasai pasar ska Indonesia di awal tahun 2000, dan booming tren musik ska langsung berakhir di kisaran tahun 2003, Dawny sempat melewati berbagai hal dalam hidupnya. Hidupnya setelah Jun FanGung Foo dilaluinya tanpa beban apapun di pundak. Dari mulai bekerja di sebuah clothing company, menjadi DJ, hingga bergabung dengan manajemen artis Millionaires Club di bawah pimpinan Andreas Wullur. Di sana, Dawny berprofesi sebagai road manager untuk berbagai band seperti Samsons, Beage, Aura Kasih, Armada hingga Seringai.

“Ketika era booming-nya ska berakhir dulu, gue malah senang. Karena sebenarnya gue nggak terlalu cocok di musik ska-punk ala Jun Fan Gung Foo, selera gue lebih ke ska tradisional seperti ini. Karena gue minoritas, jadi-nya dulu ikut saja. Dan ketika era itu berakhir gue malah lega, karena sekarang gue bisa mulai lagi melakukan hal yang memang gue ingin lakukan dari dulu. Dan ternyata Zendi juga berpikiran hal yang sama dengan gue,” tukas Dawny.

“Bulan Mei ini kami akan merilis album Pencuri Hati, sudah saatnya banyak orang tahu The Authentics, kami ingin memberikan opsi lain ke masyarakat. It’s simple, fun and friendly. Mungkin selama ini orang familier dengan citra ska yang bermusik ‘Ncet..ncet..ncet’ [menirukan bunyi gitar]. The Authentics berbeda. Kami lebih menunjukkan varian lain yang membuktikan bahwa ska itu banyak jenisnya,” ujar Dani.

Minggu, 19 Februari 2012

Politik · Hukum · Peristiwa · Kriminal · Opini Anda · Info Anda · Forum · Foto · TV * detikNews * Berita Perlu Ada Tindakan Tegas Bagi Kelompok yang Gunakan Simbol Kekerasan

Jakarta Cerita premanisme seakan tidak pernah tutup buku. Kriminolog UI Erlangga Masdiana menilai terus berkembangnya premanisme karena adanya pembiaran. Guna meredam kekerasan yang dilakukan sekelompok preman diperlukan tindakan tegas, terlebih mereka yang kerap menggunakan simbol kekerasan.

"Perlu ada tindakan lebih tegas pada kelompok yang menggunakan simbol kekerasan. Ke depan harus muncul penyelesaian oleh aparat penegak hukum," ujar Erlangga, saat hubungi detikcom, Sabtu (18/2/2012) malam.

Dia menilai polisi saat ini berperan bak pemadam kebakaran. Padahal, kata Erlanga, bukti nyata kekerasan yang dilakukan sekelompok preman sudah banyak terjadi di depan mata. Dia mencontokan kasus Ampera, di depan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, yang menewaskan 3 orang beberapa waktu lalu.

"Harus ada cara cerdas. Kalau dulu ada Petrus (Penembak Misterius), mungkin cara ke depan yang lebih akomodatif dengan memperhatikan aspek hukum," jelas Erlangga.

"Harus ada kelugasan dalam penyelesaian kasus hukum," imbuhnya.

John Kei ditangkap aparat gabungan Subdit Umum dan Subdit Resmob Polda Metro Jaya saat sedang berada di Kamar 501 Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur sekitar pukul 20.00 WIB tadi. Polisi memastikan, penangkapan dilakukan terkait kasus pembunuhan bos PT Sanex Steel, Ayung alias Tan Hari Tantono (50).

Sejumlah barang bukti diamankan saat penangkapan John Refra Kei di Hotel C'One, Pulomas, Jakarta Timur. Barang bukti itu di antaranya handphone dan uang Rp 5.250.000.

"Barang bukti yang disita, uang tunai Rp 5.250.000, 1 handphone merk Vertu warna silver, 1 Samsung notebook warna hitam dan dompet berwarna hitam cokelat," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto dalam jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Sabtu (18/2/2012).

Rikwanto menjelaskan 3 orang menyerahkan diri dan 2 orang lainnya ditangkap di Jabodetabek yang diduga terlibat pembunuhan bos PT Sanex Ayung alias Tan Hari Tantono (50)."Setelah itu kita kembangkan dan mengarah kepada seseorang yang diduga terkait kasus pembunuhan tersebut. Maka pada tanggal 17 Februari, kita tangkap JK," ujar Rikwanto.

Menurut dia, John Kei melakukan perlawanan dan berupaya melarikan diri saat ditangkap. "Maka kita melakukan tindakan tegas dengan menembak kakinya," kata Rikwanto.